...
“Kau bertanya mengapa aku menetap di gunung hijau.. Aku
tersenyum tak menjawab, sebab hatiku tiada terbebani.. Sewaktu bunga persik
mengalir ke hilir dan tak dikenali.. Tidak di antara insan, duniaku tersendiri..”
– Gunung Hijau, Li Bai (702-762)
…
ketika kau menuliskan puisi itu, dari buku tebal berwarna
merah yang berada di tumpukan teratas rak buku..
dan aku berpikir..
berpikir ulang..
bukan..
bukan memikirkanmu..
sungguh aku tak pernah memikirkanmu..
karena memang sungguh kau sudah ada di hatiku..
kembali ke masa itu..
mungkin kau tidak pernah ingat sama sekali..
jumpa kita kali pertama..
aku ingat ketika kau melambaikan tangan dan menyebutkan
namamu..
tapi mungkin kau tidak ingat ketika senyumanmu mengetuk
pintu hatiku..
perlahan..
aku ingat kali pertama percakapan kita..
tapi mungkin kau tidak ingat kali pertama pertengkaran
kita..
aku ingat kali pertama kau membuatku tersenyum dalam
persembunyian..
tapi mungkin kau tidak ingat kali pertama kau membuatku
menangis dalam pelarian..
aku ingat kali pertama kau berjanji..
tapi mungkin kau tidak ingat kali pertama kau
mengingkarinya..
awal.. tengah.. akhir..
cerita itu selalu ada..
mungkin cita-cita, mimpi-mimpi..
kita punya satu..
tapi aku sudah tau semuanya..
bahwa ternyata memang kita harus melewati jalan yang
berbeda..
aaaaaaahh..
sekali lagi aku menghadapinya..
mungkin memang benar, bahwa kau seseorang yang ada di
hatiku..
tapi apa kah aku adalah dia.. dia yang ada di hatimu?
aaaaaaahh..
sekali lagi aku menghadapinya..
seseorang yang aku percaya..
seseorang yang aku dambakan..
aaaaaaahh..
namun ku tau kau tidak sama dengan yang sebelum-sebelumnya..
beda..
benar.. beda..
detak jantung ini..
getar seluruh badan..
hilangnya kontrol untuk bernapas..
lalainya dalam berkata-kata..
kau..
kau yang bisa..
kau yang bisa membuatku selalu ingin menang darimu..
kau yang bisa membuatku selalu ingin memperbaiki diri..
kau yang bisa membuatku tersenyum..
kau yang bisa membuatku selalu mengingat-Nya..
kau..
kau yang bisa..
kau yang bisa membuatku sadar bahwa memang benar..
aku harus memiliki seseorang di sampingku..
seseorang yang tidak berada di atas ku..
seseorang yang tidak berperilaku kasar atas salah-salahku..
tapi..
seseorang yang bisa menjadi imam ku..
memang aku dan kau sekarang terpisah..
berjuta hasta..
tapi.. dalam doa yang ku panjatkan pada Sang Maha Cinta..
aaaaaaahh..
tak perlu aku menyebutkannya..
karena seperti katamu..
“aku gak perlu laporan kalau aku mendoakanmu kan? :D cukup
Dia yang tahu ^^”
yaaaaaa..
DOA..
satu-satunya cara yang bisa aku lakukan saat merindukanmu..
awal.. tengah.. akhir..
mereka berkata untuk selalu mendapatkan happy ending..
tapi aku?
sungguh.. aku tak menginginkannya..
sungguh aku tak ingin semua berakhir..
sungguh aku tak ingin semua berakhir..
tak peduli happy
ending atau sad ending..
sungguh aku tak ingin semua berakhir..
Thank you for
togetherness in foreverness..
maka ku ambil kertas dan menuliskan jawaban atas puisi yang
kau tulis, masih dari buku yang sama, buku tebal berwarna merah yang berada di
tumpukan teratas rak buku..
…
“Sewaktu es di kolam setebal tiga kaki, dan salju putih
membentang ribuan mil.. Hatiku akan tetap seperti pinus dan sipres.. Namun hatimu
– akan seperti apakah?” – Musim Salju, dari Empat Tembang Ziye, Ziye
(kk.265-420)
…
没有评论:
发表评论