2013年5月29日星期三

Selamat!

Kalau ada yang nyebut namanya aja kamu gemeter..

Kalau ada yang cerita tentang dia aja kamu merinding..

Kalau ada muka dia di depanmu aja kamu gak bisa ngomong..

Kalau ada suara dia kedengeran di telingamu aja kamu sesek napas..


SELAMAAAAAATTT..!!


Itu berarti kamu..




G I L A


Mine!

Rasanya bisa lulus kuliah dengan kecepatan amat maksimal itu……..

Seneng..

                                   Bangga..

                                                                 Bahagia..

                                                                                                 Syukur..

Tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii….

Lulus dengan “predikat” dalam 3 tahun 6 bulan pendidikan.. dan masih sendiri………..

Ituuuuuu..

HEBAT!!!!!


*peluk diri sendiri*

:’D


Jo*****doh!!

Pernah.. bahkan sering diskusi sama orang lain masalah jodoh..
Bahkan kadang sering aku diskusi ma ibuk ku masalah ini..

“Kenapa gitu buk, kalo ada cewek yang udah sukses banget, apa-apa bisa sendiri, tapi masih mikirin jodoh?” | “Ya buat menjaga hati, nduk.”

Pertanyaan ku itu mungkin hasil rasa skeptis yang muncul ya.. heheheheeee..

Entah mengapa, mungkin karena aku juga jarang nemu sosok laki-laki yang menghargai perempuan dan bahkan bisa menjaga sang perempuan itu dengan baik. :’(

Mungkin karena yang dibilang cinta itu, kadang nyakitinnya keterlaluan.. ampe kerasa sakitnya nusuk ke hati, jantung.. bahkan bisa tahan lama.. L

Tapi sahabatku, Oce, pernah bilang, “Cinta itu tidak membuatmu sakit kok, yang membuatmu sakit adalah cinta pada orang yang salah”..

Bener sih menurutku, Tuhan kasih rasa sakit itu buat peringatan kita kalo orang itu enggak baik buat kita.. J

Dan.. aku pernah diskusi juga.. hmmmm.. apa ya namanya.. sharing lah sama temenku.. via chat FB.. masalah poligami.. dan aku paling benci sama masalah ini.. “apapun alasannya.. setidaknya laki-laki harus bisa menhargai perempuan.. mau gak mau harus ada satu nama perempuan di hatinya.. mau gak mau laki-laki itu harus setia sama satu perempuan”.. itu bagian singkat dalil dari aku..

Dan ketika aku bilang “Mas, katanya kan perempuan itu tulang rusuk dari laki-laki, terus, kalo laki-laki yang poligami, berarti tulang rusuknya banyak dong”.. dan temanku cuma bilang, “siapa yang bilang kalo perempuan itu tulang rusuknya laki-laki, Fa?”

Udah.. aku berhenti.. gitu aja..

Ahahahahahaaaaaaa..

Ngomongin masalah jodoh sih kagak pernah habis..

Pacaran bertahun-tahun………… bisa putus..
Kalo pacaran dan akhirnya nikah…………… bisa cerai.. ditinggal meninggal.. dll..
Tapi ada yang gak pake pacaran ato pacaran dalam tempo singkat justru langgeng.. J

Nah.. ini lho yang namanya rahasia Tuhan.. udah ada catatan dari Tuhan kita berjodoh sama siapa nantinya.. J

Kalo emang enggak jodoh.. mau dipaksa dengan cara apa pun tetep nggak nyatu.. :’)

Sebenernya.. masih bingung juga sih ini ngomongin apa..

Nungguin aja si jodoh dateng..

Yang perlu dilakukan sekarang adalah menjadi orang yang lebih baik agar Tuhan memberikan jodoh seseorang yang baik buat kita..

"Mungkin berjuta hasta kau dan aku terpisah.. tapi kita disatukan dalam doa.." J

Dan penutup dari semua ini..


Aku berharap, kau lah jodohku.. aamiin.. :3

Udah

Jadi ceritanya sebenarnya gini..

Aku juga gak tau mulainya dari mana..

Tau-tau dah gini aja..


Udah.. :)



2013年5月26日星期日

Sedapnya Tahu Busuk di Lapangan Tian An Men

“… Bang Stefan, dunia kita ini dunia keindahan, mari kita komunikasikan hal itu jangan sampai banyak orang takut masuk karena yang mereka lihat adalah dunia rimba belantara nan kalam (kalam dalam bahasa minang = gelap menakutkan) dan jangan lupa Bang, di Beijing nanti kau akan menginap di hotel besar, mewah, di jatung kota yang besarnya berlipat dari Jakarta milik pemerintahan komunis, dan mau kapitalis, liberalis, religius pun yang penting – bisa mensejahterakan warganya, itu yang paling dipikirkan dari Deng Xiaoping,… hehe salam.

Ondeh!! (kata-kata spontan yang keluar dari orang minang bila terkejut mendengar sesuatu), mimpi apa aku semalam, kok tiba-tiba sms balasan itu yang malah muncul di layar Hp ku yang baru sekejap kuikat dengan karet gelang merah, usai berderai dietrek-etrek (dietrek-etrek dalam bahasa jawa timuran = melebihi dipijak) oleh Troy dan Kay sepasang anak kembarku usia dua tahunan, karena mereka jengkel tak dibolehkan berendam di kolam padahal hari menjelang petang di Barak kemarin hehehe… Tentu saja barisan kalimat sms itu yang seketika membuat darahku tasirok (dalam bahasa minang, tasirok: darah tersirap). Bukanlah disebabkan efek dari rusaknya Hp ku tadi ulah sepasang anak kembarku, tapi kalomat-kalimat itu adalah balasan sms dari sahabatku yang juga seorang pengamat seni, penulis, budayawan (EDS adalam inisial nama yang bisa kuberikan) yang sebelumnya kuberitakan via sms pula, tentang undangan yang kudapat untuk hadir ke acara Biennale Beijing ujung September lalu. Walau bukan untuk pertama kalinya ke negeri Cina, keinginan untuk datang ke sana selalu menggebu-gebu di dada. Apa sebabnya bisa jadi karena sedari kecil kata-kata Cina begitu akrab di telingaku. Semua merk mainanku selalu ada tertera label made in China. Warung kopi milik babah Hong yang paling enak dan ramai itu juga punya orang Cina, belum lagi perkakas pertukangan milik pamanku juga semua merk Cina, dan jangan lupa wajahku pun sipit seperti wajah Cina… haha. Ini bisa jadi, karena menurut para ahli sih, nenek moyang kita memang berasal dari Indo Cina dan yang pasti juga karena masa kecilku di Pulau Belakang Padang, pulau kecil yang masuk rangkaian kepulauan Riau dan tepatnya berada di “sepelemparan batu” di belakang Singapura yang masih sekitar selat Philips dan masuk dalam bentangan panjang selat Malaka itu banyak dipenuhi etnis Cina yang hidup damai dan membumi dengan warga pribumi lainnya.

Belum pula hilang rasa terkejutku saat menerima sms dari sahabatku itu, dua hari sebelum berangkat ke negeri Paman Mao tersebut, sekitar jam enam pagi waktu Cina, pesawat Garuda kami siap mendarat (yang sebelumnya berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta jam 11.30 WIB) saya dan dua teman lagi di Bandar Beijing Internasional tersebut makin terkejut ketika begitu turun tangga pesawat mata kami semua disambut dominasi warna merah yang berasal dari ratusan bendera ukuran besar yang kebetulan sedang gagah berkibar dan berjejer rapi dipancangkan di gedung utama yang berada di kawasan bandara mega itu. Sungguh landscape yang sangat memprovokasi mata bagi siapa saja yang saat itu berada di bandara tersebut. warna merah bendera itu, jujur membuatku tersublimasi, apa sebab? Di satu sisi aku merasa takjub dengan suasana tersebut, tapi di sisi lain secara bersamaan ada rasa gamang yang langsung sekejap hinggap. Mungkin bagiku kata-kata gamang tersebut pantas kuistilahkan untuk suasana saat itu. Gamang adalah istilah dari bahasa Minang untuk mengatakan seseorang tersebut apabila mengalami suatu keadaan merasa ragu atau bisa jadi ketakberdayaan menghadapi sesuatu.

Nahm tentu yang baca tulisan ini di awal-awalnya bingung! Apa sih yang membuat saya tasirok ketika mendapatkan tulisan via sms dari sahabat saya tersebut? coba bayangkan, berangkat ke Beijing bagi kami bertiga yang diundang ke acara Biennale tersebut bagaikan undangan untuk berlibur, berleha-leha, berlenggang-lenggang di atas Tembok Cina, bertemu seniman-seniman seluruh dunia, potret sana-potret sini, dan lain-lain. Nah, kalau membaca kalimat awal-awal d isms sahabat saya itu, pasti sudah terbayang kegembiraannya. Seperti ini kalimatnya saya coba ulangi: “di Beijing nanti kamu akan menginap di hotel besar, mewah, di jantung kota yang besarnya berlipat dari Jakarta..” Nah! Siapa sih yang tidak senang membayangkan dari kalimat-kalimat tersebut? tapi, begitu ada tambahan kalimat seperti ini “milik pemerintahan Komunis”. Nah, sebaris kata pendek itu yang jujur saja, membuat darahku langsung tasirok – komunis? Bagi kita orang Indonesia sampai hari inipun kata tersebut untuk mendengarnya saja – masih seperti mendengar petir di siang bolong, mengejutkan dan menghentak saraf siapa saja yang mendengar dan membacanya. Hal ini tak perlu kujelasin lagi pasti sudah dijadikan “kamus” bagi setiap insan.

Sekarang mudah-mudahan yang baca tulisan ini pasti lumayan sudah cukup paham, kenapa aku tasirok tadi, dan siapa sih yang tak akan lebih tasirok lagi ketika kini, kita malah tanpa terasa justru sudah tiba di bandara ibu kota negeri Cina Komunis tersebut yaitu Bejing. Dan, begiitu menjejakkan kaki pandangan kami langsung disambut dengan ratusan bendera merah, berukuran besar-besar lagi… haha. Tapi, beberapa menit kemudian aku langsung refleks berpikir “Wah, kalau kata komunis itu yang kupikirkan, bisa-bisa aku malah nggak bisa happy dalam perjalanan kali ini. Mendingan kaya menyeramkan tersebut sementara di don’t worry be happy kan waelah,.. gitu aja kok repot, kata alm. Gus Dur. Hahaha.. oke Beijing,.. kami datang.”

Dikarenakan acara pembukaan Biennale Beijing tersebut akan dimulai jam 8 pagi waktu setempat, sedangkan setibanya kami di bandara Beijing ini sudah jam 6 pagi, terpaksa setelah selesai mengurus persoalan imigrasi (paspor, dll) langsung kami mencari taksi dengan tujuan ke Gedung Museum Nasional Cina, gedung tempat acara tersebut berlangsung. Kemudian kami mulai memasuki gedung bandara yang canggih tersebut, malah kami terpukau – ini bandara atau Mall ya? Haha.. kepada seorang wanita tua petugas di bandara itu, kami bertanya dalam bahasa Inggri di mana tempat kami pesan taksi, ternyata dia tidak balas komunikasinya dengan bahasa Inggris, tapi dengan bahasa Cina, seraya mengisaratkan jarinya – menunjuk keluar mungkin memberitahukan keberadaan taksi. Walau kami bingung tapi dengan dia menunjuk keluar, di depan kami sudah berjejer taksi dengan rapi menanti.

Segera kami temui seorang petugas bandara kebetulan wajahnya mirip aktor laga Cho Yun Fa, ganteng sekali. Saya langsung reflek berpikir,.. “Wah kalau di Jakarta, dia ini mungkin akan dijadikan bintang sinetron, tapi pasti bukan sinetron laga, melainkan sinetron yang selalu menjamur dan monoton, yah seperti kisah lelaki ganteng anak orang kaya yang terlibat cinta segitiga atau segilima, dan kemudian sibuk berkonspirasi merebut harta warisan keluarganya atau kisah seorang pengusaha muda yang ganteng punya perusahaan besar dan karyawatinya begitu banyak yang molek-sibu memancing perhatian sang Bos dengan rok mini warna merah jambunya bla… bla… Nah, menyangkut petugas bandara yang mirip Cho Yun Fa tersebut, saya tak tahu apakah dia semacam polisi bandara (?) Tapi, yang jelas ketika dia melihat taksi yang agaka nakal nyelonong, begitu dia bunyikan sempritnya, mobil taksi tersebut langsung berhenti, dan taksi itupun kembali berjejer rapi. Kebetulan saat itu ada taksi yang baru saja tiba dan menurunkan penumpangnya, langsung taksi tersebut dia stop dan dia berikan kepada kami. Kami spontan ucapkan kalimat Xiexie yang artinya terima kasih pada Cho Yun Fa tersebut hahaha. Ternyata lokasi bandara cukup jauh dari lokasi yang kami tuju. Hampir dua jam lebih baru sampai di Gedung Museum Nasional Cina tersebut. Di dalam sedan taksi yang posisi setirnya berlawanan seperti kita di Indonesia kami temui seorang supir usia paruh baya dan juga tak bisa bahasa Inggris. Kami sudah antisipasi supaya kami tidak nyasar, maka kami berikan amplop surat undangan Bienalle kami padanya, dia langsung menganggukkan kepala dan segera meluncur. Di dalam taksi dia bolehkan kamu merokok, karena diapun juga merokok. Tapi, tentu saja jendela mobilnya kami buka sedikit. Si supir taksi tersebut dengan ramah menawarkan rokok putih Cina-nya kepada kami, dan balas kuberikan sebatang rokok Dji Sam Su padanya dengan senang dia langsung coba dan, hehe dia suka. Setelah tiba di tujuan, kami bayar uang taksi sesuai argo yang tercantum. Di depan Gedung Museum Nasional Cina yersebut terlihat suasana ramai, acara sudah dimulai. Karena kami datang terlambat, dan sebelumnya dianjurkan oleh panitia agar langsung saja dari bandara ke Gedung Museum Nasional Cina tersebut, tidak mampir dulu ke Hotel Internasional Beijing, tempat kami difasilitasi menginap-otomatis tentu saja saat sampai di gedung tersebut kedatangan kami yang lengkap dengan tas koper yang bisa ditarik ala tas yang sering dipakai untuk bepergian menggunakan pesawat tersebut menarik perhatian mata yang memandang. Sayang sekali panitia acara sebergengsi tersebut tidak peka menyambut kami. Mestinya secara logika melihat ada yang datang memakai tas seperti itu, mereka cepat tanggap dan cepat menduga mungkin ini peserta yang terlambat datang tersebut, dll. Tapi kami malah terkesan seperti orang bingung sesaat justru setelah kami menghampiri petugas yang menjaga buku yang ternyata juga kikuk bahasa Inggris. Oalahhh iki pieee? Haha. Tapi untung saja kami bertemu teman-teman undangan dari Indonesia lainnya. Nahhh, baru suasana jadi bersahabat dan kocak, ditambah lagi saat itu ternyata kami ditemui ibu Yuni Suryati yang ramah. Konsul di KBRI Beijing-alumni fakultas hukum UGM yang datang dengan mbak Rini Utami dari kantot berita Antara- yang pasti kedatangannya karena diundang penyelenggaraa Bienalle tersebut. suasana makin hangat, setelah berfoto bersama dan menikmati suasana pameran yang waktunya terbatas. Akhirnya kami kemudian diberitahu panitia bahwa bus yang akan menghantarkan kami ke penginapan hotel bintang lima Beijing Internasional, sudah siap berjejer menanti di halaman Gedung Museum Nasional Cina tersebut. Bangunan yang megah, besar, berlantai lima dan tak lupa tetap beraksitektural tradisional mereka.

Yang menarik dari ajang Biennale yang bergengsi ini selain kami bisa bertemu dengan para perupa dari seluruh dunia, kami kaget juga ketika berkenalan dengan peserta dari luar uang kebanyakan sudah berusia tua tapi bergelar professor. Beda dengan kami yang semua masih di bawah usia 45 tahunan, ternyata bagi negara luar, usia tua dan gelar canggih mereka, tak menghalangi mereka untuk terus berkompetisi mengikuti ajang Biennale apapun sambil- so pasti melengkapi CV atau biodata perjalanan keseniman mereka. Dalam event ini perserta dari negeri kita antara lain dari Jogjakarta yaitu, saya Stefan Buana, Zulfirmansyah, dan Piko Sugiharto. Dari Bali yaitu Adi Gunawan, Uuk Paramitha, Edi Asmara, serta Bambang Juliartha. Dai Jakarta Wiliam Robert, dan satu orang dari Kalimantan adalah Saeri. Semua, kami Sembilan orang dan kami bisa diundang dalam acara dua tahunan ini setelah terpilih dari ribuan seniman seluruh dunia. Ketika kami para peserta dibagikan katalog Biennale tersebut dengan kemasan katalog besar, rancak, dan tebalnya 6 cm tersebut, semakin kami yakin bahwa kami memang beruntung diundang dalam acara ini.

Tapi setelah berbincang dengan para finalis dari negara luar yang mengatakan bahwa kedatanan mereka pada acara tersebut semua disponsori oleh negara masing-masing karena menurut mereka, negara berkewajiban mendanai setiap warganya yang sedang diundang oleh negara lain dalam hal bidang kompetisi apapun, dan lagi mereka dianggap duta bangsa yang mestinya dihormati dan difasilitasi. Mendengar cerita mereka, kami cukup mengurut dada saja, tak kaget-kaget amat, apa sebab? Karena hal ini sudah terbiasa bagi kami para perupa alami. Dalam hal fasilitas dari panitia memang kami mendapatkan penginapan, makan gratis selama 4 hari di hotel bintang lima tersebut. Tapi, kalau ongkos pesawat tidak difasilitasi panitia. Nah, dalam hal mencari biaya ongkos pesawat tersebut, masing-masing seniman berjibaku dengan caranya sendiri. Kebetulan rombongan kami dari Jogja, mendapatkan bantuan dari Pak Hanifah Komala dan Pak Yacob Santosa pemilik Gallery 678 di Jakarta. Saat kami membuka katalog exclusive event tersebut, kami tidak terlalu kaget-kaget amat. Ketika di halaman terakhir tercantum nama-nama seluruh negara lewat kedutaan besar mereka masing-masing kecuali negeri kami tercinta Indonesia. Namu, saat kami utarakan hal tersebut pada ibu Konsul kita di sana Ibu Yuni Suryati, yang sebelumnya bertemu kami di Museum Nasional Cina, mereka juga kaget dan bertanya kenapa kami para seniman tidak mengontak KBRI Beijing saat akan berencana mengikuti event tersebut. ini yang membuat kami agak bingung, karena menurut informasi teman-teman yang datang pada event ini, dua tahun sebelumnya mereka tidak mendapat sambutan yang semestinya dari KBRI bahkan cerita teman-teman tersebut ada kejadian yang membuat mereka kesal, ketika saat rombongan seniman kita yang tiba di bandara Internasional Beijing tersebut mendarat dan turun daru pesawat, tiba-tiba mereka melihat sedan Merci mewah yang berbendera merah putih dan ada tertulis kedutaan besar Indonsia dalam dua bahasa, Inggris dan Cina menghampiri. Perkiraan mereka, wah ini pasti Kedutaan Besar Indonesia akan menyambut mereka. Tapi ternyata,… hahaha sedan tersebut hanya akan menjemput dubes kita yang juga baru turun di bandara tersebut. Dan yang lebih miris lagi, rombongan seniman kita, sempat bertemu dengan dubes tersebut, dan berbincang standar sesame warga negara yang bertemu di bandara lain. Akrab foto sana-foto sini, dan seperti biasa juga sang dubes beri komitmen, akan bertemu mereka lagi beberapa hari lagi dan juga akan mendukung mereka. Tapi yahhh… lagi-lagi mereka cuma mengurut dada dengan tangan kanan, dan tangan kiri gigit jadi karena sang dubes tak pernah muncul lagi. Tapi kejadian ini dua tahun lalu, saat itu dubesnya dari militer. Tapi kini, ada pergantian dubes baru pertama kali dari sipil yang ditempatkan di KBRI tersebut. beliau juga alumni UGM ini menurut Ibu Yuni. Dan ketika kami diundang menginap di kedubes RI di Beijing, selain kami bertemu ibu Yuni tsb, kami juga bertemu dengan bapak dubes, Imran Cotan dan istri. Bapak Konsul pak Chandra Hanitya Ganda Suburata, mbak Rini Utami, mas Arif, mas Wahyu Ibnu Maulana, dan yang lainnya semua ramah dan baik hati. Ketemu mereka, seperti bertemu sahabat sebangsa yang lama tak bertemu, bahkan kami dipersilakan menginap di sana 2 hari dan kemudian sekalian diantarkan ke Bandara Beijing, untuk balik ke Indonesia. Semua gampang tersenyum, kecuali petugas polisi Cina yang berjaga 24 jam di gerbang KBRI hehe… Mereka semua masih muda-muda dengan usia 20-an tahun, berkarakter dingin, tapi entah mengapa kok sama saya mereka mau tersenyum, dan mau diajak foto bersama. Mungkin karena wajah saya mirip bangsa Mongol saudara mereka, atau bisa jadi karena badan saya bertato dengan motif Batik Parang penuh di seluruh tubuh, hehe.

Saat bertemu ibu konsul- Ibu Yuni yang selalu tersenyum itu, kami juga ceritakan kejadian yang dialami rombongan Indonesia 2 tahun lalu. Dan beliau mengatakan bahwa beliau tidak tahu kejadiannya. Malah menanyakan kepada kami, apakah sebelumnya ada mengontak mereka? Mendengari itu kami langsung paham bahwa bisa jadi hal ini terjadi karena kelalaian rombongan tersebut yang datang tanpa konfirmasi dengan mereka dulu. Dan kami menyadari ini, bahwasannya kami lalai. Dan beliau pun bilang, adalah kewajiban setiap KBRI di manapun, membantu warga negaranya. Wahhh… matur nuwun ya bu. Dan berdasarkan keterangan beliau, ke depan apabila ada lagi wakil Indonesia yang akan datang ke Beijing dalam rangka diundang dalam event apapun mestinya kontak beliau dulu. Jadi dalam hal ini ada miss communication. Terkadang kita buru-buru menyalahkan KBRI, padahal kita lah yang sembrono tidak terlebih dahulu mengontak mereka. Ada lagi pembelajaran yang didapat dalam perjalanan ini, selain pembelajaran lain, seperti kejadian ini. Tempo hari, karena rokok yang dibawa dari Indonesia habis, terpaksa pergi ke supermarket di seberang hotel berbintang tersebut. Saat di dalam Supermarket sambil memilih rokok made in China, tiba-tiba saya mendengar suara TV yang terpajang di Supermarket tersebut, siaran TV tersebut kebetulan sedang menayangkan kegiatan Ibadah Haji di Mekkah. Mungkin kita semua sudah paham sejarah mencatat bangsa Cina menyebut Islam dengan sebutan ‘Yisilan Jiao’ artinya agama yang murni. Dan mereka pun menyebut tempat kelahiran Budha Ma Hia Wu (Nabi Muhammad). Dalam hal ini sudah tentu para ahlilah yang lebih tahu dan yang menuliskannya. Tapi yang jelas, bagiku saat melihat TV yang lagi menyiarkan suasana ibadah haji tersebut, malah pikiranku menerawang ke Tanah Air, yang mana para jama’ahnya selalu saja terabaikan dalam pelaksanaan Ibadah Hajinya. Padahal secara logika pasti sudah ribuan kali pelaksanaan ibadah itu terselenggara sejak republik ini berdiri, Lah kok tetap saja semrawut pelaksanaannya. Apalagi kalau dipikir-pikir lagi - dominan yang melaksanakan ibadah haji tersebut biasanya sudah berumur lanjut dan jangan lupa pula mereka bisa naik haji itupun karena sudah menabung sejak lama - susah payah lagi. Dan satu hal lagi – ini yang selalu bangsa kita remehkan – mereka pun adalah rakyat yang setia pada negara sepanjang hayatnya. Nah! Apakah seperti itu yang mereka dapatkan dari negeri yang dicintainya? Sungguh ironis hidup di negeri kita ini, sampai tua pun masih dikejar sengsara dan lebih ironis lagi justru di saat mereka menjalani ibadah haji yang notabene adalah perjalanan suci, mungkin terakhir atau cuma sekali bagi mereka. Saya ingat suatu slogan di negeri kita berbunyi ‘jangan tanyakan apa yang bisa negara berikan kepadamu, tapi tanyalah pada dirimu sendiri apa yang bsia kamu berikan pada negerimu’. Wah kalau dalma konteks revolusi saya rasa itu sah-sah saja, tapi sekarang tentu konteksnya berbeda. Sekarang sudah lebih 60 tahun kita merdeka, sudah saatnya negaralah yang kini memberi. Dan kalau slogan itu masih terus dipakai sampai kini, so pasti negara takkan pernah punya kewajiban men”servis” warga negaranya karena akan selalu minta diberi, bukan sebaliknya. Semua orang tahu bahwa sebenarnya negara mampu memfasilitasi rakyatnya untuk beribadah Haji. Tapi semua orang juga tahu, uang tersebut telah dikorupsi oleh oknum pegawai departemen agama itu sendiri, wee lahhh.

Persoalan ibadah rukun kelima dalam Islam, yang kulihat di TV yang berada di Supermarket pada lokasi jantung kota Beijing tersebut, dan ditambah lagi dengan ingatanku pada kata-kata HAJI itu, justru mengingatkanku pada nama perdana menteri Cina yang bernama ZHU RONGJI yang punya kebijakan ampuh membasmi tindakan korupsi di negerinya dengan pernyataannya yang melegenda dan sampai hari ini bisa membuat perut pelaku korupsi di manapun “Badampuang”, yang artinya dala bahasa Minang, ‘sangat ketakutan’. Lewat pernyataannya yang kira-kira berbunyi seperti ini: “siapkan aku 100 peti mati, 99 nya akan kuberikan pada para pejabatku yang korup dan satu lagi buatku apabila terbukti juga korup”. Sepertinya kebijakan tersebut sangat mendesak untuk diterapkan-sekarang di Indonesia!

Menyangkut wisata di sana, sebenarnya ada beberapa tempat yang sangat terkenal di Beijing yang kami datangi. Seperti Tembok Cina yang bagiku kalau ke Cina tidak mampir ke sana, sama saja tidak sah kedatangan tersebut. Tapi bagiku untuk diceritakan di sini tidaklah terlalu memprovokasiku, otak pikiranku. Begitu juga dengan gedung olimpiade, gedung parlemen, pusat keramaian malam Wong fujing di jantung Beijing atau kota terlarang. Tapi kecuali adalah lapangan yang ada di gerbang kota terlarang tersebut yang bernama lapangan Tian an men, atau Tianmen menurut pengucapan Cina. Kenapa aku lebih tertarik dengan lapangan ini daripada objek wisata lainnya? Karena bagiku lapangan ini selain bentuknya yang sangat luas, kata orang ini adalah lapangan terluas di dunia yang berada di tengah kota. Selain itu yang lebih menarik adalah nilai history di dalamnya. Monggo-monggo mari segera kita masuk ke lapangan itu,..

Satu hari menjelang pulang ke Indonesia, sorenya rombongan seniman Indonesia diajak ke lapangan Tianmen oleh ibu Konsul, ibu Yuni dan mbak Rini Utami dari kantor berita Antara dengan menggunakan dua mobil kedutaan yang disupiri lelaki warga Cina yang ramah. Sesampai di sana hari jelang petang dan sekejab terlihat lapangan tersebut yang sudah dipenuhi manusia dari berbagai negara, dan so pasti dominan warga Cina. Karena saat itu kabarnya juga masih dalam suasana liburan, jadi seluruh warga Cina daratan menyempatkan datang ke sana. Dan ada suatu bangunan paling besar yang pada dindingnya terpampang wajah dari ketua Mao, seolah-olah wajah besarnya yang dipasang pada dinding tinggi itu sedang memperhatikan rakyatnya yang selalu berfoto-foto dengan latar belakang wajahnya-untuk menghormatinya. Hampir setiap orang yang kami jumpai, mereka memakai topi, kaos, pin, bendera kecil, atau atribut lain yang menyimbolkan Cina seperti gambar wajah Mao, palu arit, dll. Ternyata mereka sangat bangga dengan simbol-simbol negaranya. Tidak seperti kita, yang pernah saya lihat disuatu daerah pada saat hari kemerdekaan, mereka malah tidak memasang bendera Merah Putih. Tapi ketika ada acara piala dunia sepak bola, kita malah tak ragu “berjihat” bersama untuk membuat bendera team kesayangan masing-masing, dan bendera itupun dibuat meraksasa, seperti bendera Jerman merah kuning hitam, bendera Brazil, dll. Sedangkan- Sangsaka malah sering terlihat kecil, kusam atau kalau tidak sedang beruntung- robek-robek.

Bang Stefan Buana (urutan keempat dari kanan) bersama rekan seniman Indonesia lainnya di Biennale Beijing, 2012
Suasana “Tian men” makin sore makin ramai karena menurut ibu konsul kita itu, sebentar lagi akan ada upacara penurunan bendera yang akan dilakukan tentara Cina dengan atraksi yang selalu ditunggu-tunggu tiap tahun sekali. Dan memang saat itu, banyak tentara Cina yang masih muda-muda berbaris dengan rapinya, dan mungkin adalah tipikal wajah mereka dingin tak ada senyum. Sambil menikmati suasana, kami ditawari makanan yang dijual di pinggir lapangan tersebut. Makanan tersebut bernama tahu busuk- kalau diartikan dalam bahasa kita. Memang sangat busuk sekali tahu tersebut, tapi begitu dicoba enak sekali. Makanya orang Cina menamakan makanan tersebut dengan nama seperti itu.

Ingat tahu busuk, saya malah ingat peristiwa Tianmen. Apa sebab? Begini, kalau membayangkan peristiwa pahit tersebut, sama seperti halnya saya yang awalnya ragu-ragu mengambil tahu busuk yang memang berbau tengik. Tapi begitu dimakan baru terasa enak dan kita lupa dengan bau tengik tersebut. Begitu juga dengan kejadian lapangan Tianmen tersebut, pasti pahit dan tengik. Tapi lihatlah Cina sekarang begitu mendominasi kekuatannya, bahkan Amerika yang mengklaim sebagai negara superpower itu malah kini berhutang pada negeri tirai bambu tersebut! Pie ki le leee..? Sebenarnya kalau ingat peristiwa Tianmen, jujur juga mengingatkan saya ketika dengan ratusan bahkan ribuan mahasiswa dan rakyat jelata lainnya- bentrok dengan polisi yang ternyata bersenjata – peluru tajam mendemo turunnya Pak Harto di Boulevard UGM tahun 98. Saat itu pasti semua orang dan saya berharap, setelah tumbangnya Pak Harto, akan ada kepemimpinan yang lebih baik. Tapi sampai bergantinya kepemimpinan yang sudah berkali-kali tersebut, kok malah makin banyak pengemis, gelandangan, pengangguran ya? Koruptor kok makin menggurita saja? Tapi tidak dengan di Cina tindakan korupsi itu sangat jarang. Dan kalaupun ada pasti mereka akan dibuat “insyaf” oleh pemimpinnya dengan “fasilitas peti mati” yang sudah disiapkan. Mari saya ingatkan lagi mungkin tindakan ini segera saja kita adopsi, tapi tentu dengan menggunakan budaya kita, kalau pemerintahan Cina menggunakan “peti mati” untuk setiap pejabatnya yang korup, kalau kita cukup dengan “menyediakan” kijing atau batu nisan. Terlepas dari kurang atau lebihnya kebijakan yang diambil pemerintahan adidaya Cina yang kini Naga tersebut tidak tidur lagi tapi menggeliat bahkan “sibuk mencakar”, kemudian saya rasa adalah langkah yang tepat apabila wakil rakyat kita mengalihkan studi bandingnya yang selama ini ke Negeri barat- tapi kini ke Cina. Selain biaya hidupnya murah dibanding negara-negara Eropa termasuk Amerika. Sebagai satu contohnya ketika berada di Beijing saat saya bersama rombongan naik bus kota, kemanapun tujuannya hanya membayar uang sekitar satu sampai dua Yuan (mata uang Cina), jika dirupiahkan kurang lebih tiga ribuan. Dan lagi bukankah kita masih sesama Asia, serta jangan lupa sebagai orang Muslim mestinya kita akan selalu ingat dengan anjuran kanjeng Nabi Muhammad SAW, seperti sabda pada umatnya: ‘Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina’.
Stefan Buana
Barak Seni, Senin 29 Oktober 2012
Daerah Pemakaman Gunung Sempu
3 Hari usai Lebaran Haji


tulisan ini telah dipublikasikan oleh Jurnal Bulak, Jurnal Sosial dan Budaya Universitas Gadjah Mada, Volume 6, Desember 2012


...

kangen..

Wo Zhende Hen Ai Zhongguo :3











China.. i'm coming.. :))