“…
Bang Stefan, dunia kita ini dunia keindahan, mari kita komunikasikan hal itu
jangan sampai banyak orang takut masuk karena yang mereka lihat adalah dunia
rimba belantara nan kalam (kalam dalam bahasa minang = gelap menakutkan) dan jangan lupa Bang, di
Beijing nanti kau akan menginap di hotel besar, mewah, di jatung kota yang
besarnya berlipat dari Jakarta milik pemerintahan komunis, dan mau kapitalis,
liberalis, religius pun yang penting – bisa mensejahterakan warganya, itu yang
paling dipikirkan dari Deng Xiaoping,… hehe salam.
Ondeh!!
(kata-kata spontan yang keluar dari orang minang bila terkejut mendengar
sesuatu), mimpi apa aku semalam, kok tiba-tiba sms balasan itu yang malah
muncul di layar Hp ku yang baru sekejap kuikat dengan karet gelang merah, usai
berderai dietrek-etrek (dietrek-etrek dalam bahasa jawa timuran =
melebihi dipijak) oleh Troy dan Kay sepasang anak kembarku usia dua tahunan,
karena mereka jengkel tak dibolehkan berendam di kolam padahal hari menjelang
petang di Barak kemarin hehehe… Tentu saja barisan kalimat sms itu yang
seketika membuat darahku tasirok
(dalam bahasa minang, tasirok: darah
tersirap). Bukanlah disebabkan efek dari rusaknya Hp ku tadi ulah sepasang anak
kembarku, tapi kalomat-kalimat itu adalah balasan sms dari sahabatku yang juga
seorang pengamat seni, penulis, budayawan (EDS adalam inisial nama yang bisa
kuberikan) yang sebelumnya kuberitakan via sms pula, tentang undangan yang
kudapat untuk hadir ke acara Biennale Beijing ujung September lalu. Walau bukan
untuk pertama kalinya ke negeri Cina, keinginan untuk datang ke sana selalu
menggebu-gebu di dada. Apa sebabnya bisa jadi karena sedari kecil kata-kata
Cina begitu akrab di telingaku. Semua merk mainanku selalu ada tertera label made in China. Warung kopi milik babah
Hong yang paling enak dan ramai itu juga punya orang Cina, belum lagi perkakas
pertukangan milik pamanku juga semua merk Cina, dan jangan lupa wajahku pun
sipit seperti wajah Cina… haha. Ini bisa jadi, karena menurut para ahli sih,
nenek moyang kita memang berasal dari Indo Cina dan yang pasti juga karena masa
kecilku di Pulau Belakang Padang, pulau kecil yang masuk rangkaian kepulauan
Riau dan tepatnya berada di “sepelemparan batu” di belakang Singapura yang masih
sekitar selat Philips dan masuk dalam bentangan panjang selat Malaka itu banyak
dipenuhi etnis Cina yang hidup damai dan membumi dengan warga pribumi lainnya.
Belum
pula hilang rasa terkejutku saat menerima sms dari sahabatku itu, dua hari
sebelum berangkat ke negeri Paman Mao tersebut, sekitar jam enam pagi waktu
Cina, pesawat Garuda kami siap mendarat (yang sebelumnya berangkat dari Bandara
Soekarno-Hatta jam 11.30 WIB) saya dan dua teman lagi di Bandar Beijing
Internasional tersebut makin terkejut ketika begitu turun tangga pesawat mata
kami semua disambut dominasi warna merah yang berasal dari ratusan bendera
ukuran besar yang kebetulan sedang gagah berkibar dan berjejer rapi
dipancangkan di gedung utama yang berada di kawasan bandara mega itu. Sungguh landscape yang sangat memprovokasi mata
bagi siapa saja yang saat itu berada di bandara tersebut. warna merah bendera
itu, jujur membuatku tersublimasi,
apa sebab? Di satu sisi aku merasa takjub dengan suasana tersebut, tapi di sisi
lain secara bersamaan ada rasa gamang
yang langsung sekejap hinggap. Mungkin bagiku kata-kata gamang tersebut pantas
kuistilahkan untuk suasana saat itu. Gamang adalah istilah dari bahasa Minang
untuk mengatakan seseorang tersebut apabila mengalami suatu keadaan merasa ragu
atau bisa jadi ketakberdayaan menghadapi sesuatu.
Nahm
tentu yang baca tulisan ini di awal-awalnya bingung! Apa sih yang membuat saya
tasirok ketika mendapatkan tulisan via sms dari sahabat saya tersebut? coba
bayangkan, berangkat ke Beijing bagi kami bertiga yang diundang ke acara
Biennale tersebut bagaikan undangan untuk berlibur, berleha-leha,
berlenggang-lenggang di atas Tembok Cina, bertemu seniman-seniman seluruh
dunia, potret sana-potret sini, dan lain-lain. Nah, kalau membaca kalimat
awal-awal d isms sahabat saya itu, pasti sudah terbayang kegembiraannya.
Seperti ini kalimatnya saya coba ulangi: “di Beijing nanti kamu akan menginap
di hotel besar, mewah, di jantung kota yang besarnya berlipat dari Jakarta..”
Nah! Siapa sih yang tidak senang membayangkan dari kalimat-kalimat tersebut?
tapi, begitu ada tambahan kalimat seperti ini “milik pemerintahan Komunis”.
Nah, sebaris kata pendek itu yang jujur saja, membuat darahku langsung tasirok
– komunis? Bagi kita orang Indonesia sampai hari inipun kata tersebut untuk
mendengarnya saja – masih seperti mendengar petir di siang bolong, mengejutkan
dan menghentak saraf siapa saja yang mendengar dan membacanya. Hal ini tak
perlu kujelasin lagi pasti sudah dijadikan “kamus” bagi setiap insan.
Sekarang
mudah-mudahan yang baca tulisan ini pasti lumayan sudah cukup paham, kenapa aku
tasirok tadi, dan siapa sih yang tak akan lebih tasirok lagi ketika kini, kita
malah tanpa terasa justru sudah tiba di bandara ibu kota negeri Cina Komunis
tersebut yaitu Bejing. Dan, begiitu menjejakkan kaki pandangan kami langsung
disambut dengan ratusan bendera merah, berukuran besar-besar lagi… haha. Tapi,
beberapa menit kemudian aku langsung refleks berpikir “Wah, kalau kata komunis
itu yang kupikirkan, bisa-bisa aku malah nggak bisa happy dalam perjalanan kali
ini. Mendingan kaya menyeramkan tersebut sementara di don’t worry be happy kan
waelah,.. gitu aja kok repot, kata alm. Gus Dur. Hahaha.. oke Beijing,.. kami
datang.”
Dikarenakan
acara pembukaan Biennale Beijing tersebut akan dimulai jam 8 pagi waktu
setempat, sedangkan setibanya kami di bandara Beijing ini sudah jam 6 pagi,
terpaksa setelah selesai mengurus persoalan imigrasi (paspor, dll) langsung
kami mencari taksi dengan tujuan ke Gedung Museum Nasional Cina, gedung tempat
acara tersebut berlangsung. Kemudian kami mulai memasuki gedung bandara yang
canggih tersebut, malah kami terpukau – ini bandara atau Mall ya? Haha.. kepada
seorang wanita tua petugas di bandara itu, kami bertanya dalam bahasa Inggri di
mana tempat kami pesan taksi, ternyata dia tidak balas komunikasinya dengan
bahasa Inggris, tapi dengan bahasa Cina, seraya mengisaratkan jarinya –
menunjuk keluar mungkin memberitahukan keberadaan taksi. Walau kami bingung
tapi dengan dia menunjuk keluar, di depan kami sudah berjejer taksi dengan rapi
menanti.
Segera
kami temui seorang petugas bandara kebetulan wajahnya mirip aktor laga Cho Yun
Fa, ganteng sekali. Saya langsung reflek berpikir,.. “Wah kalau di Jakarta, dia
ini mungkin akan dijadikan bintang sinetron, tapi pasti bukan sinetron laga,
melainkan sinetron yang selalu menjamur dan monoton, yah seperti kisah lelaki
ganteng anak orang kaya yang terlibat cinta segitiga atau segilima, dan
kemudian sibuk berkonspirasi merebut harta warisan keluarganya atau kisah
seorang pengusaha muda yang ganteng punya perusahaan besar dan karyawatinya
begitu banyak yang molek-sibu memancing perhatian sang Bos dengan rok mini
warna merah jambunya bla… bla… Nah, menyangkut petugas bandara yang mirip Cho
Yun Fa tersebut, saya tak tahu apakah dia semacam polisi bandara (?) Tapi, yang
jelas ketika dia melihat taksi yang agaka nakal nyelonong, begitu dia bunyikan
sempritnya, mobil taksi tersebut langsung berhenti, dan taksi itupun kembali
berjejer rapi. Kebetulan saat itu ada taksi yang baru saja tiba dan menurunkan
penumpangnya, langsung taksi tersebut dia stop dan dia berikan kepada kami.
Kami spontan ucapkan kalimat Xiexie yang artinya terima kasih pada Cho Yun Fa
tersebut hahaha. Ternyata lokasi bandara cukup jauh dari lokasi yang kami tuju.
Hampir dua jam lebih baru sampai di Gedung Museum Nasional Cina tersebut. Di
dalam sedan taksi yang posisi setirnya berlawanan seperti kita di Indonesia
kami temui seorang supir usia paruh baya dan juga tak bisa bahasa Inggris. Kami
sudah antisipasi supaya kami tidak nyasar, maka kami berikan amplop surat
undangan Bienalle kami padanya, dia langsung menganggukkan kepala dan segera
meluncur. Di dalam taksi dia bolehkan kamu merokok, karena diapun juga merokok.
Tapi, tentu saja jendela mobilnya kami buka sedikit. Si supir taksi tersebut
dengan ramah menawarkan rokok putih Cina-nya kepada kami, dan balas kuberikan
sebatang rokok Dji Sam Su padanya dengan senang dia langsung coba dan, hehe dia
suka. Setelah tiba di tujuan, kami bayar uang taksi sesuai argo yang tercantum.
Di depan Gedung Museum Nasional Cina yersebut terlihat suasana ramai, acara
sudah dimulai. Karena kami datang terlambat, dan sebelumnya dianjurkan oleh
panitia agar langsung saja dari bandara ke Gedung Museum Nasional Cina
tersebut, tidak mampir dulu ke Hotel Internasional Beijing, tempat kami
difasilitasi menginap-otomatis tentu saja saat sampai di gedung tersebut
kedatangan kami yang lengkap dengan tas koper yang bisa ditarik ala tas yang
sering dipakai untuk bepergian menggunakan pesawat tersebut menarik perhatian
mata yang memandang. Sayang sekali panitia acara sebergengsi tersebut tidak
peka menyambut kami. Mestinya secara logika melihat ada yang datang memakai tas
seperti itu, mereka cepat tanggap dan cepat menduga mungkin ini peserta yang
terlambat datang tersebut, dll. Tapi kami malah terkesan seperti orang bingung
sesaat justru setelah kami menghampiri petugas yang menjaga buku yang ternyata
juga kikuk bahasa Inggris. Oalahhh iki pieee? Haha. Tapi untung saja kami
bertemu teman-teman undangan dari Indonesia lainnya. Nahhh, baru suasana jadi
bersahabat dan kocak, ditambah lagi saat itu ternyata kami ditemui ibu Yuni
Suryati yang ramah. Konsul di KBRI Beijing-alumni fakultas hukum UGM yang
datang dengan mbak Rini Utami dari kantot berita Antara- yang pasti
kedatangannya karena diundang penyelenggaraa Bienalle tersebut. suasana makin
hangat, setelah berfoto bersama dan menikmati suasana pameran yang waktunya
terbatas. Akhirnya kami kemudian diberitahu panitia bahwa bus yang akan
menghantarkan kami ke penginapan hotel bintang lima Beijing Internasional,
sudah siap berjejer menanti di halaman Gedung Museum Nasional Cina tersebut.
Bangunan yang megah, besar, berlantai lima dan tak lupa tetap beraksitektural
tradisional mereka.
Yang
menarik dari ajang Biennale yang bergengsi ini selain kami bisa bertemu dengan
para perupa dari seluruh dunia, kami kaget juga ketika berkenalan dengan
peserta dari luar uang kebanyakan sudah berusia tua tapi bergelar professor. Beda
dengan kami yang semua masih di bawah usia 45 tahunan, ternyata bagi negara
luar, usia tua dan gelar canggih mereka, tak menghalangi mereka untuk terus
berkompetisi mengikuti ajang Biennale apapun sambil- so pasti melengkapi CV
atau biodata perjalanan keseniman mereka. Dalam event ini perserta dari negeri
kita antara lain dari Jogjakarta yaitu, saya Stefan Buana, Zulfirmansyah, dan
Piko Sugiharto. Dari Bali yaitu Adi Gunawan, Uuk Paramitha, Edi Asmara, serta
Bambang Juliartha. Dai Jakarta Wiliam Robert, dan satu orang dari Kalimantan
adalah Saeri. Semua, kami Sembilan orang dan kami bisa diundang dalam acara dua
tahunan ini setelah terpilih dari ribuan seniman seluruh dunia. Ketika kami
para peserta dibagikan katalog Biennale tersebut dengan kemasan katalog besar,
rancak, dan tebalnya 6 cm tersebut, semakin kami yakin bahwa kami memang
beruntung diundang dalam acara ini.
Tapi
setelah berbincang dengan para finalis dari negara luar yang mengatakan bahwa
kedatanan mereka pada acara tersebut semua disponsori oleh negara masing-masing
karena menurut mereka, negara berkewajiban mendanai setiap warganya yang sedang
diundang oleh negara lain dalam hal bidang kompetisi apapun, dan lagi mereka
dianggap duta bangsa yang mestinya dihormati dan difasilitasi. Mendengar cerita
mereka, kami cukup mengurut dada saja, tak kaget-kaget amat, apa sebab? Karena hal
ini sudah terbiasa bagi kami para perupa alami. Dalam hal fasilitas dari
panitia memang kami mendapatkan penginapan, makan gratis selama 4 hari di hotel
bintang lima tersebut. Tapi, kalau ongkos pesawat tidak difasilitasi panitia. Nah,
dalam hal mencari biaya ongkos pesawat tersebut, masing-masing seniman
berjibaku dengan caranya sendiri. Kebetulan rombongan kami dari Jogja,
mendapatkan bantuan dari Pak Hanifah Komala dan Pak Yacob Santosa pemilik
Gallery 678 di Jakarta. Saat kami membuka katalog exclusive event tersebut, kami tidak terlalu kaget-kaget amat. Ketika
di halaman terakhir tercantum nama-nama seluruh negara lewat kedutaan besar
mereka masing-masing kecuali negeri kami tercinta Indonesia. Namu, saat kami
utarakan hal tersebut pada ibu Konsul kita di sana Ibu Yuni Suryati, yang
sebelumnya bertemu kami di Museum Nasional Cina, mereka juga kaget dan bertanya
kenapa kami para seniman tidak mengontak KBRI Beijing saat akan berencana
mengikuti event tersebut. ini yang
membuat kami agak bingung, karena menurut informasi teman-teman yang datang
pada event ini, dua tahun sebelumnya mereka tidak mendapat sambutan yang
semestinya dari KBRI bahkan cerita teman-teman tersebut ada kejadian yang
membuat mereka kesal, ketika saat rombongan seniman kita yang tiba di bandara
Internasional Beijing tersebut mendarat dan turun daru pesawat, tiba-tiba
mereka melihat sedan Merci mewah yang berbendera merah putih dan ada tertulis
kedutaan besar Indonsia dalam dua bahasa, Inggris dan Cina menghampiri. Perkiraan
mereka, wah ini pasti Kedutaan Besar Indonesia akan menyambut mereka. Tapi ternyata,…
hahaha sedan tersebut hanya akan menjemput dubes kita yang juga baru turun di
bandara tersebut. Dan yang lebih miris lagi, rombongan seniman kita, sempat
bertemu dengan dubes tersebut, dan berbincang standar sesame warga negara yang
bertemu di bandara lain. Akrab foto sana-foto sini, dan seperti biasa juga sang
dubes beri komitmen, akan bertemu mereka lagi beberapa hari lagi dan juga akan
mendukung mereka. Tapi yahhh… lagi-lagi mereka cuma mengurut dada dengan tangan
kanan, dan tangan kiri gigit jadi karena sang dubes tak pernah muncul lagi. Tapi
kejadian ini dua tahun lalu, saat itu dubesnya dari militer. Tapi kini, ada pergantian
dubes baru pertama kali dari sipil yang ditempatkan di KBRI tersebut. beliau
juga alumni UGM ini menurut Ibu Yuni. Dan ketika kami diundang menginap di
kedubes RI di Beijing, selain kami bertemu ibu Yuni tsb, kami juga bertemu
dengan bapak dubes, Imran Cotan dan istri. Bapak Konsul pak Chandra Hanitya
Ganda Suburata, mbak Rini Utami, mas Arif, mas Wahyu Ibnu Maulana, dan yang
lainnya semua ramah dan baik hati. Ketemu mereka, seperti bertemu sahabat
sebangsa yang lama tak bertemu, bahkan kami dipersilakan menginap di sana 2
hari dan kemudian sekalian diantarkan ke Bandara Beijing, untuk balik ke
Indonesia. Semua gampang tersenyum, kecuali petugas polisi Cina yang berjaga 24
jam di gerbang KBRI hehe… Mereka semua masih muda-muda dengan usia 20-an tahun,
berkarakter dingin, tapi entah mengapa kok sama saya mereka mau tersenyum, dan
mau diajak foto bersama. Mungkin karena wajah saya mirip bangsa Mongol saudara mereka,
atau bisa jadi karena badan saya bertato dengan motif Batik Parang penuh di
seluruh tubuh, hehe.
Saat
bertemu ibu konsul- Ibu Yuni yang selalu tersenyum itu, kami juga ceritakan
kejadian yang dialami rombongan Indonesia 2 tahun lalu. Dan beliau mengatakan
bahwa beliau tidak tahu kejadiannya. Malah menanyakan kepada kami, apakah
sebelumnya ada mengontak mereka? Mendengari itu kami langsung paham bahwa bisa
jadi hal ini terjadi karena kelalaian rombongan tersebut yang datang tanpa konfirmasi
dengan mereka dulu. Dan kami menyadari ini, bahwasannya kami lalai. Dan beliau
pun bilang, adalah kewajiban setiap KBRI di manapun, membantu warga negaranya. Wahhh…
matur nuwun ya bu. Dan berdasarkan keterangan beliau, ke depan apabila ada lagi
wakil Indonesia yang akan datang ke Beijing dalam rangka diundang dalam event apapun mestinya kontak beliau
dulu. Jadi dalam hal ini ada miss
communication. Terkadang kita buru-buru menyalahkan KBRI, padahal kita lah
yang sembrono tidak terlebih dahulu mengontak mereka. Ada lagi pembelajaran
yang didapat dalam perjalanan ini, selain pembelajaran lain, seperti kejadian
ini. Tempo hari, karena rokok yang dibawa dari Indonesia habis, terpaksa pergi
ke supermarket di seberang hotel berbintang tersebut. Saat di dalam Supermarket
sambil memilih rokok made in China, tiba-tiba saya mendengar suara TV yang
terpajang di Supermarket tersebut, siaran TV tersebut kebetulan sedang
menayangkan kegiatan Ibadah Haji di Mekkah. Mungkin kita semua sudah paham
sejarah mencatat bangsa Cina menyebut Islam dengan sebutan ‘Yisilan Jiao’
artinya agama yang murni. Dan mereka pun menyebut tempat kelahiran Budha Ma Hia
Wu (Nabi Muhammad). Dalam hal ini sudah tentu para ahlilah yang lebih tahu dan
yang menuliskannya. Tapi yang jelas, bagiku saat melihat TV yang lagi
menyiarkan suasana ibadah haji tersebut, malah pikiranku menerawang ke Tanah
Air, yang mana para jama’ahnya selalu saja terabaikan dalam pelaksanaan Ibadah
Hajinya. Padahal secara logika pasti sudah ribuan kali pelaksanaan ibadah itu
terselenggara sejak republik ini berdiri, Lah kok tetap saja semrawut
pelaksanaannya. Apalagi kalau dipikir-pikir lagi - dominan yang melaksanakan
ibadah haji tersebut biasanya sudah berumur lanjut dan jangan lupa pula mereka
bisa naik haji itupun karena sudah menabung sejak lama - susah payah lagi. Dan
satu hal lagi – ini yang selalu bangsa kita remehkan – mereka pun adalah rakyat
yang setia pada negara sepanjang hayatnya. Nah! Apakah seperti itu yang mereka
dapatkan dari negeri yang dicintainya? Sungguh ironis hidup di negeri kita ini,
sampai tua pun masih dikejar sengsara dan lebih ironis lagi justru di saat
mereka menjalani ibadah haji yang notabene adalah perjalanan suci, mungkin
terakhir atau cuma sekali bagi mereka. Saya ingat suatu slogan di negeri kita
berbunyi ‘jangan tanyakan apa yang bisa negara berikan kepadamu, tapi tanyalah
pada dirimu sendiri apa yang bsia kamu berikan pada negerimu’. Wah kalau dalma
konteks revolusi saya rasa itu sah-sah saja, tapi sekarang tentu konteksnya
berbeda. Sekarang sudah lebih 60 tahun kita merdeka, sudah saatnya negaralah
yang kini memberi. Dan kalau slogan itu masih terus dipakai sampai kini, so
pasti negara takkan pernah punya kewajiban men”servis” warga negaranya karena akan selalu minta diberi, bukan
sebaliknya. Semua orang tahu bahwa sebenarnya negara mampu memfasilitasi
rakyatnya untuk beribadah Haji. Tapi semua orang juga tahu, uang tersebut telah
dikorupsi oleh oknum pegawai departemen agama itu sendiri, wee lahhh.
Persoalan ibadah rukun kelima dalam Islam,
yang kulihat di TV yang berada di Supermarket
pada lokasi jantung kota Beijing tersebut, dan ditambah lagi dengan ingatanku
pada kata-kata HAJI itu, justru mengingatkanku pada nama perdana menteri Cina
yang bernama ZHU RONGJI yang punya kebijakan ampuh membasmi tindakan korupsi di negerinya dengan pernyataannya yang melegenda dan sampai hari ini bisa membuat
perut pelaku korupsi di manapun “Badampuang”,
yang artinya dala bahasa Minang, ‘sangat ketakutan’. Lewat pernyataannya yang
kira-kira berbunyi seperti ini: “siapkan aku 100 peti mati, 99 nya akan
kuberikan pada para pejabatku yang korup dan satu lagi buatku apabila terbukti
juga korup”. Sepertinya kebijakan tersebut sangat mendesak untuk
diterapkan-sekarang di Indonesia!
Menyangkut wisata di sana, sebenarnya ada beberapa
tempat yang sangat terkenal di Beijing yang kami datangi. Seperti Tembok Cina
yang bagiku kalau ke Cina tidak mampir ke sana, sama saja tidak sah kedatangan
tersebut. Tapi bagiku untuk diceritakan di sini tidaklah terlalu
memprovokasiku, otak pikiranku. Begitu juga dengan gedung olimpiade, gedung
parlemen, pusat keramaian malam Wong
fujing di jantung Beijing atau kota terlarang. Tapi kecuali adalah lapangan
yang ada di gerbang kota terlarang tersebut yang bernama lapangan Tian an men, atau Tianmen menurut pengucapan Cina. Kenapa aku lebih tertarik dengan
lapangan ini daripada objek wisata lainnya? Karena bagiku lapangan ini selain
bentuknya yang sangat luas, kata orang ini adalah lapangan terluas di dunia
yang berada di tengah kota. Selain itu yang lebih menarik adalah nilai history di dalamnya. Monggo-monggo mari
segera kita masuk ke lapangan itu,..
Satu hari menjelang pulang ke Indonesia,
sorenya rombongan seniman Indonesia diajak ke lapangan Tianmen oleh ibu Konsul, ibu Yuni dan mbak Rini Utami dari kantor
berita Antara dengan menggunakan dua mobil kedutaan yang disupiri lelaki warga
Cina yang ramah. Sesampai di sana hari jelang petang dan sekejab terlihat
lapangan tersebut yang sudah dipenuhi manusia dari berbagai negara, dan so pasti dominan warga Cina. Karena
saat itu kabarnya juga masih dalam suasana liburan, jadi seluruh warga Cina
daratan menyempatkan datang ke sana. Dan ada suatu bangunan paling besar yang
pada dindingnya terpampang wajah dari ketua Mao, seolah-olah wajah besarnya
yang dipasang pada dinding tinggi itu sedang memperhatikan rakyatnya yang
selalu berfoto-foto dengan latar belakang wajahnya-untuk menghormatinya. Hampir
setiap orang yang kami jumpai, mereka memakai topi, kaos, pin, bendera kecil,
atau atribut lain yang menyimbolkan Cina seperti gambar wajah Mao, palu arit,
dll. Ternyata mereka sangat bangga dengan simbol-simbol negaranya. Tidak
seperti kita, yang pernah saya lihat disuatu daerah pada saat hari kemerdekaan,
mereka malah tidak memasang bendera Merah Putih. Tapi ketika ada acara piala
dunia sepak bola, kita malah tak ragu “berjihat” bersama untuk membuat bendera team kesayangan masing-masing, dan
bendera itupun dibuat meraksasa, seperti bendera Jerman merah kuning hitam,
bendera Brazil, dll. Sedangkan- Sangsaka malah sering terlihat kecil, kusam
atau kalau tidak sedang beruntung- robek-robek.
 |
| Bang Stefan Buana (urutan keempat dari kanan) bersama rekan seniman Indonesia lainnya di Biennale Beijing, 2012 |
Suasana “Tian men” makin sore makin ramai
karena menurut ibu konsul kita itu, sebentar lagi akan ada upacara penurunan
bendera yang akan dilakukan tentara Cina dengan atraksi yang selalu
ditunggu-tunggu tiap tahun sekali. Dan memang saat itu, banyak tentara Cina
yang masih muda-muda berbaris dengan rapinya, dan mungkin adalah tipikal wajah
mereka dingin tak ada senyum. Sambil menikmati suasana, kami ditawari makanan
yang dijual di pinggir lapangan tersebut. Makanan tersebut bernama tahu busuk-
kalau diartikan dalam bahasa kita. Memang sangat busuk sekali tahu tersebut,
tapi begitu dicoba enak sekali. Makanya orang Cina menamakan makanan tersebut
dengan nama seperti itu.
Ingat tahu busuk, saya malah ingat
peristiwa Tianmen. Apa sebab? Begini, kalau membayangkan peristiwa pahit
tersebut, sama seperti halnya saya yang awalnya ragu-ragu mengambil tahu busuk
yang memang berbau tengik. Tapi begitu dimakan baru terasa enak dan kita lupa
dengan bau tengik tersebut. Begitu juga dengan kejadian lapangan Tianmen tersebut, pasti pahit dan
tengik. Tapi lihatlah Cina sekarang begitu mendominasi kekuatannya, bahkan
Amerika yang mengklaim sebagai negara superpower itu malah kini berhutang pada
negeri tirai bambu tersebut! Pie ki le leee..? Sebenarnya kalau ingat peristiwa
Tianmen, jujur juga mengingatkan saya ketika dengan ratusan bahkan ribuan
mahasiswa dan rakyat jelata lainnya- bentrok dengan polisi yang ternyata
bersenjata – peluru tajam mendemo turunnya Pak Harto di Boulevard UGM tahun 98.
Saat itu pasti semua orang dan saya berharap, setelah tumbangnya Pak Harto,
akan ada kepemimpinan yang lebih baik. Tapi sampai bergantinya kepemimpinan
yang sudah berkali-kali tersebut, kok malah makin banyak pengemis, gelandangan,
pengangguran ya? Koruptor kok makin menggurita saja? Tapi tidak dengan di Cina
tindakan korupsi itu sangat jarang. Dan kalaupun ada pasti mereka akan dibuat
“insyaf” oleh pemimpinnya dengan “fasilitas peti mati” yang sudah disiapkan.
Mari saya ingatkan lagi mungkin tindakan ini segera saja kita adopsi, tapi
tentu dengan menggunakan budaya kita, kalau pemerintahan Cina menggunakan
“peti mati” untuk setiap pejabatnya yang korup, kalau kita cukup dengan
“menyediakan” kijing atau batu nisan. Terlepas dari kurang atau lebihnya
kebijakan yang diambil pemerintahan adidaya Cina yang kini Naga tersebut
tidak tidur lagi tapi menggeliat bahkan “sibuk mencakar”, kemudian saya rasa
adalah langkah yang tepat apabila wakil rakyat kita mengalihkan studi
bandingnya yang selama ini ke Negeri barat- tapi kini ke Cina. Selain biaya
hidupnya murah dibanding negara-negara Eropa termasuk Amerika. Sebagai satu
contohnya ketika berada di Beijing saat saya bersama rombongan naik bus kota,
kemanapun tujuannya hanya membayar uang sekitar satu sampai dua Yuan (mata uang
Cina), jika dirupiahkan kurang lebih tiga ribuan. Dan lagi bukankah kita masih
sesama Asia, serta jangan lupa sebagai orang Muslim mestinya kita akan selalu
ingat dengan anjuran kanjeng Nabi Muhammad SAW, seperti sabda pada umatnya:
‘Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina’.
Stefan Buana
Barak Seni, Senin 29 Oktober 2012
Daerah Pemakaman Gunung Sempu
3 Hari usai Lebaran Haji
tulisan ini telah dipublikasikan oleh Jurnal Bulak, Jurnal Sosial dan Budaya Universitas Gadjah Mada, Volume 6, Desember 2012